Buddha, Mudra, dan Kontemplasi


Buddha adalah seorang manusia yang mendapatkan kebijaksanaan atau pencerahan yang adalah tokoh sentral dalam agama Buddha (Buddhisme).

Banyak hal mengenai Buddha dan ajaran Buddha dapat dimaknai atau dijelaskan secara psikologis. Dalam hal ini, ajaran Buddha dapat bersifat universal, sekuler, atau non agamis, non sektarian.

Sementara itu, kepercayaan Buddhisme seperti kosmologi dan hal-hal seperti jalan keselamatan adalah hal yang bersifat agamis atau non universal karena tidak bisa atau belum tentu dipercayai oleh orang dengan latar belakang agama yang berbeda karena hal itu berkaitan dengan iman, akidah, dan dogma dalam hati suatu individu.

Buddhisme memiliki 3 aliran utama yaitu Mahayana, Theravada, dan Tantrayana. Intinya, 3 aliran ini memilili detail yang berbeda untuk total kitab suci ataupun kitab pendamping, ritual, beberapa pola pandang, dan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh manusia pada umumnya (mistikisme, dll).

Buddhisme yang ada di Jawa (sampai Majapahit) secara umum adalah gabungan dari Mahayana dan Tantrayana. Hal ini dapat diketahui melalui salah satu lontar atau kitab yaitu Sang Hyang Kamahayanikan yang ditulis oleh Êmpu Sindhok. Adanya kepercayaan tentang Adibuddha juga menjadi contoh lain. Selain itu, adanya jenis-jenis Buddha yang di luar Buddha Sakyamuni di Borobudur maupun arca Manjusri dan Pradnyaparamita menjadi bagian definitifnya.

Arca-arca di Borobudur memilili mudra khususnya astamudra (bentuk-bentuk tangan) yang ada dan sesuai dengan 5 arah mata angin.

1. Abhaya mudra ke arah Utara berarti ketidakbahayaan melambangkan Amoghasidhi.


2. Bhumiparsa mudra ke arah Timur berarti menyentuh bumi melambangkan Akshobya.

3. Wara mudra ke arah Selatan berarti memberi (amal, anugerah) melambangkan Ratmasambhawa 


4. Dyana mudra ke arah Barat berarti sikap dhyana (bentuk, level meditasi) melambangkan Amitabha.


5. Dharmacakra mudra di Tengah berarti roda dharma (kebenaran, hukum) melambangkan Wairocana.

Mudra-mudra ini melambangkan jenis dan sikap Buddha dalam hidup dan ajaran Buddha.

Lima poin dari arca di atas berarti: 

1. Ketidakbahayaan dari luar dan dalam
2. Menyentuh bumi, kembali ke alam dan hal-hal yang alamiah, merendahkan hati (down to earth).
3. Memberi ke orang lain tanpa pamrih apapun yang kita mampu, tidak serakah ataupun iri, tidak memiliki keinginan untuk diri sendiri.
4. Dyana, meditasi, pembersihan pikiran, menciptakan pikiran dan biji karma yang baik untuk karma atau perbuatan yang baik.
5. Roda Dharma, melakukan dan menegakkan dharma atau kebenaran dalam kehidupan kita dan sekitar kita.

Dengan berpikiran dan melakukan hal yang baik maka karma baik akan terbentuk. Dengan segala hal yang baik dan bersih luar dalam maka hidup kita dan masa depan kita akan bersih dan baik juga.

Membersihkan karma buruk di masa lalu dengan cara membuat pikiran dan karma yang baik di masa ini sehingga kita akan berubah luar dalam menjadi yang bersih dan baik.

Tidak berpedoman kepada kekuatan eksternal khususnya manusia lain (kecuali Tuhan) tetapi kita menciptakan kebaikan, kebersihan, kedamaian dari diri kita sendiri. Pun bila kita turut mempengaruhi kebaikan orang lain maka itu adalah byproduct bukan poin utama yang ingin kita capai sebagai prioritas kita.

Tentu saja mengurangi hal-hal yang buruk dan adharma dari input dan hidup kita juga menjadi penting agar kita tidak dipenuhi karma buruk luar dalam.

Semoga semuanya penuh damai dan berkat selalu. Saddhu, saddhu, saddhu.






Popular posts from this blog

Producing Good Things

Several Things That I Learn From Waliyullah